body { font: normal normal 12px 'Roboto', sans-serif; color: #000000; background: #FFF none repeat scroll top left; } .header-button { display: block; height: 60px; line-height: 60px; background: #010048; }

Ditegor Teman atas Tulisan ‘’Ketika Allah Berkehendak’’

Foto: Ilustrasi RamahNusantara, Jakarta - Beberapa hari setelah tulisan saya dimuat di ramahnusantara.com milik LTN NU Jakarta Ti...

Foto: Ilustrasi


RamahNusantara, Jakarta - Beberapa hari setelah tulisan saya dimuat di ramahnusantara.com milik LTN NU Jakarta Timur, teman ‘’menegor’’ saya dengan mengatakan, ‘’Ibadah itu hubungan hamba dengan Allah yang sangat pribadi, tidak perlu ditulis secara terbuka. Sehingga bisa menimbulkan rasa riya atau ingin dipuji orang.  Kalau sudah begitu, maka amal ibdah kita akan  akan sirna, bagaikan pasir di atas batu licin yang dengan mudah sirna dihempas ombak riya tadi.’’  Tegoran itu langsung dikirim ke WA saya secara japri (Jaringan Pribadi)

Saya terima tegoran itu. Memang, menulis hal seperti itu, yang saya beri judul ‘’Ketika Allah Berkehendak’’ orang menilainya macem-macem. Itu hak para pembaca. Tetapi, saya menulis hal itu, dasarnya Al Quran surat Ad Dhuha ayat terakhir yang berbunyi ‘’Fabini’mati rabbika fahaddits’’ (Maka, dengan nikmat yang kau terima dari Tuhanmu, ceritakanlah)

Jelas, ketika saya bisa melaksanakan Ibadah Umrah, itu karena nikmat dari Allah. Bahkan, Allah yang mengatur semuanya hingga ibadah itu terlaksana. Itulah sebabnya, saya merasa perlu untuk menulisnya atau menceritakannya kepada para pembaca Blogger.com RamahNUsantara beberapa hari lalu, sebagai rasa syukur saya atas nikmat tersebut.

Saya  hanya ingin menyampaikan kepada para pembaca, terutama kepada pribadi saya sendiri, bahwa ketika Allah Berkehendak, maka semua telah direncanakanNya dengan sangat rapi. Bahkan, saya yang dalam ‘’genggaman dan pengendalianNya’’ tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengikuti kehendakNya.

Seperti tulisan saya seri (1) tentang Ibadah Umrah. Allah hanya menggerakkan petugas Kelurahan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur agar mengubah status pekerjaan saya dari ‘’Wartawan’’ menjadi ‘’karyawan.’’ Kelihatannya sangat sederhana, tetapi itu telah menjadikan KehendakNya terlaksana dengan baik setahun kemudian.

Saat itu saya sempat protes pada Lurah Ceger atas ‘’kesalahan’’ penulisan status profesi saya. Tetapi pada saat yang bersamaan saya harus membuat Paspor untuk memenuhi undangan Bakrie Motor meninjau pembuatan prototipe Mobil Nasional di Manchester, Inggris. Mobil itu akan diproduksi perusahaan Group Bakrie di Indonesia.

Kondisi itu, menjadikan saya dalam keadaan dilematis. Kalau saya lanjutkan protes, dimana KTP saya yang baru terbit akan diambil pihak kelurahan untuk dikembalikan kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Timur. Ini berarti saya tidak bisa bikin Paspor hingga akhirnya, mungkin kesempatan saya ke Inggris bisa batal. Padahal ini kesempatan langka dan belum tentu dalam kesempatan lain saya bisa ke Inggris.

Akhirnya, saya ambil lagi KTP tersebut untuk digunakan pembuatan Paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Sampai akhirnya, jadilah Paspor saya dengan status pekerjaan ‘’Karyawan’’ bukan Wartawan. Padahal, dalam pengisian formulir saya tulis pekerjaan saya Wartawan. Itu juga dilampiri dengan surat pengantar dari Jawa Pos yang juga menjelaskan, saya sebagai Wartawan Jawa Pos.

Di sini, kembali Allah menunjukkan kekuasaanNya mengendalikan petugas Imigrasi. Mereka tidak menulis pekerjaan saya sebagai Wartawan, sebagaimana formulir yang saya isi, melainkan sebagai Karyawan. Benar-benar Allah mengendalikan semuanya ‘’Ketika Berkehendak’’. 

Bagi saya, ini pengalaman yang punya nilai luar biasa, bagaimana Ketika Allah Berkehendak atas terjadinya sesuatu, semua diaturnya dengan rapi, sehingga tidak ada celah yang memungkinkan ‘’KehendakNya’’ tidak terlaksana setahun kemudian.

Seperti dalam tulisan itu, Juni 1996 saya berangkat ke Inggris meninjau pembuatan prototipe Mobil Nasional milik Bakrie Motor. Setahun kemudian, tepatnya pada Oktober 1997 (bukan November 1997) ada peristiwa menyedihkan, seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia asal Cianjur, Jawa Barat di Riyad, Arab Saudi akan dieksekusi mati. Maka dipilihlah wartawan Jawa Pos asal Tasikmalaya untuk dikirim ke Riyad meliput eksekusi mati TKW tersebut. Pertimbangannya, jika ketemu, mereka bisa wawancara menggunakan bahasa Sunda, sesuai bahasa daerah asal mereka, Jawa Barat.

Ternyata, Kedubes Arab Saudi di Jakarta, menolak permohonan visa wartawan Jawa Pos tadi, dengan alasan karena status pekerjaanya sebagai Wartawan. Saat itu, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi masih alaergi dengan kehadiran wartawan di negara Petro Dollar itu. Sekarang setiap tahun, banyak wartawan Indonesia yang meliput kegiatan ibadah haji.

Maka dicarilah wartawan yang punya Paspor dengan pekerjaan bukan wartawan. Pilihan itu jatuh ke saya karena dalam paspor saya, status pekerjaan karyawan.
Hari Jumat selepas Shalat Jumat, saya pun menghadap Dubes Arab Saudi di Jakarta bersama teman saya, Nasmay L Anas yang juga wartawan Jawa Pos. Tanpa banyak bicara, kami menjelaskan maksud tujuan kami, yakni mohon visa kunjungan ke Arab Saudi.

Selanjutnya, Dubes itu memanggil sekretarisnya, Yuli Haris yang juga teman kami untuk mengantarkan Paspor dan tiket pesawat saya ke petugas bagian yang berwenang menangani permohonan visa. Setengah jam kemudian, Yuli membawa Paspor tersebut yang telah distempel visa untuk kunjungan ke Saudi selama 14 hari.

Di sinilah ‘’Kehendak Allah’’ itu mulai terwujud. Hari Selasa minggu berikutnya, saya pun berangkat ke Saudi dengan tujuan King Abdul Aziz Airport, Jeddah. Saya langsung mengambil miqat atau niat untuk Ibadah Umrah ke Masjidil Haram di Makkah dengan mandi dan niat Umrah.

Usai miqat, saya berdiri di pinggir halaman airport tersebut tanpa tahu untuk apa yang harus saya lakukan. Maklum, saat itu jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari waktu setempat, suasanya sangat sepi, meski keadaannya terang benderang.

Tiba-tiba sedan warna putih datang mendekati tempat saya berdiri. Salah seorang penumpangnya keluar dan bertanya, apakah melihat seorang guru besar dari IAIN Syarif Hidyatullah, Ciputat, Jakarta. Saya bilang tidak tahu. Akhirnya, teman satunya keluar dari sedan itu. Kami ngobrol bersama.

Ternyata, dua orang itu mahasiswa Indonesia yang kuliah di Ummul Qurra University, Makkah. Mereka dari Makasar dan Banten. Sayang saya lupa nama mereka. Maklum, baru 20 tahun yang lalu.
‘’Mas mau ke mana,’’ tanya salah seorang di antara mereka.
‘’Saya mau Umrah,’’ jawabku, singkat.
‘’Sekarang sedang menunggu siapa?,’’ tanyanya kemudian.
Saya jawab, ‘’tidak ada yang saya tunggu.’’
‘’Kalau begitu, kita bareng ke Makkah,’’ ajaknya dan saya pun memenuhi ajakan mereka.
‘’Wah.... terimakasih banget nih udah ngajak saya sama-sama ke Makkah. Padahal ini baru pertamakalinya saya ke sini,’’ kataku dengan rasa gembira. 

Akhirnya, kami pun sampai di Makkah dan diantarkan untuk menginap di hotel sederhana di seberang Masjidil Haram. Mereka pun membantu saya proses check in di hotel tersebut. Sekarang hotel itu telah tiada, diganti hotel-hotel mewah di sekitar Masjidil Haram. Tahun 2012, saat saya menunaikan ibadah haji, hotel itu saya cari, tetapi telah tiada.

Usai meletakkan barang-barang bawaan di kamar hotel, saya pun akan langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan Ibadah Umrah. Dua orang teman tadi lantas meninggalkan saya sendiri. ‘’Bisa melaksanakan Umrah sendirian?,’’ tanyanya. Saya jawab, ‘’Insya Allah bisa.’’

Mereka pun meninggalkan saya. Saya pun langsung menuju Masjidil Haram dengan jalan kaki untuk melaksanakan Ibadah Umrah, yakni Shalat Sunnah dua rakaat, lantas Tawaf, megelilingi Ka’bah 7 kali, dilanjutkan dengan Sa’i, lari-lari kecil dari Bukit Sowa ke Bukit Marwa, juga 7 kali. Lantas diakhiri di Bukit Marwa untuk melakukan Tahallul atau potong rambut. Maka selesailah prosesi Ibadah Umrah itu.

Dari proses itu semua, ini benar-benar Allah lah yang mengatur semuanya. Semua ini bukan  suatu kebetulan, melainkan suatu perencanaan dari Kehendak Allah Yang Maha Kuasa atas semuanya. Bayangkan, tiba-tiba ada sedan mendekati saya, kemudian mengajak ke Masjidil Haram, Makkah. Kalau bukan karena kehendak Allah, bagaimana mungkin mereka tiba-tiba mengajak saya ke Makkah? Mereka memang diutus Allah untuk ‘’menjemput’’ saya.

Yang lebih luar biasa lagi. Seperti cerita di atas, bahwa saya menggantikan teman wartawan Jawa Pos asal Tasikmalaya tadi ke Riyad, tetapi visa saya hanya ke Jeddah, Makkah dan Madinah. Ini berarti, saya tidak bisa ke Riyad meliput eksekusi mati TKW asal Cianjur itu. 

Tetapi, Allah punya rencana tersendiri. Saat itu terjadi pemulangan TKI/TKW besar-besaran. Prosesnya di Madinatul Hujjaj Indonesia di Jeddah. Seandainya, tidak ada peristiwa ini, jelas saya akan kebingungan, mau menulis apa saya di Arab Saudi. Peristiwa ini telah menolong saya, sehingga setiap hari usai melaksanakan Ibadah Umrah tadi, saya membuat laporan kegiatan pemulangan TKI/TKW besar-besaran akibat Arab Saudi juga terkena imbas Krismon (Krisis Moneter) Global, sama dengan yang dialami Indonesia saat itu.

Benar-benar rencana Allah sangat paripurna. Kita semua tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya. Tetapi, Ketika Allah Berkehendak, kejadian setahun yang akan datang atau di masa mendatang, maka kehendak itu pasti terjadi.

Semoga dengan tulisan ini, akan menjadikan iman dan keyakinan kita semakin kuat, bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. KehendakNya, pasti terjadi. Dan, kita tidak tahu, apa yang Allah kehendaki atas diri. Kita hanya bisa berusaha, berikhtiar dan berdoa, keputusan akhir yang akan terjadi hanya Kehendak Allah SWT.

Yang paling utama bagi kita, jalani kehidupan ini sesuai dengan yang kita alami dengan berkhusnudzan atau berprasangka baik pada Allah. Bahwa, kehendak Allah itu adalah yang terbaik bagi kita. Karena kita tidak tahu, apa kehendak Allah sebenarnya pada kita. Dengan berprasangka baik pada Allah, sudah pasti Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita. Itu sudah pasti.

Subhanallah...

Bahar Maksum
Sekretaris LTN NU Jakarta Timur


Nama

#LTN NUJaktim,3,#Pagarnusa #Nahdlatululama,3,AGAMA,61,AKIDAH,5,FIQH & USHUL FIQH,13,GALERI MAJELIS,1,HADIST dan ILMU HADIST,6,Hikmah,46,HUMOR,7,ISLAM,10,KHUTBAH,10,Kumpulan Sholawat,5,NAHWU SHOROF,3,Nasional,6,OPINI,41,Pendidikan,57,PSIKOLOGI AGAMA,21,RENUNGAN,28,SEJARAH,48,TASAWUF,21,TEKNOLOGI,2,TENTANG CINTA,10,TERJEMAHAN KITAB KUNING,1,ULUMUL QURAN,7,USHUL FIQH,4,WARTA,7,WARTA FOTO,15,WARTA JAKARTA,27,WARTA NASIONAL,204,Warta NU,54,WARTA POLITIK,21,Wisata Alam,2,WISATA RELIGI,1,
ltr
item
ramahNUsantara: Ditegor Teman atas Tulisan ‘’Ketika Allah Berkehendak’’
Ditegor Teman atas Tulisan ‘’Ketika Allah Berkehendak’’
https://1.bp.blogspot.com/-KtokN-NNMS8/WeqUrFTyQZI/AAAAAAAAFmU/oJRYNKwLom0Zb1M67LbezkZxtBsgSFqVwCLcBGAs/s320/WhatsApp-iOS-Features.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-KtokN-NNMS8/WeqUrFTyQZI/AAAAAAAAFmU/oJRYNKwLom0Zb1M67LbezkZxtBsgSFqVwCLcBGAs/s72-c/WhatsApp-iOS-Features.jpg
ramahNUsantara
http://www.ramahnusantara.com/2017/10/ditegor-teman-atas-tulisan-ketika-allah.html
http://www.ramahnusantara.com/
http://www.ramahnusantara.com/
http://www.ramahnusantara.com/2017/10/ditegor-teman-atas-tulisan-ketika-allah.html
true
3253109472015871150
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts BACA LAINNYA Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Ramah NUsantara Ramah NUsantara Halaman Postingan Baca Semua BACA JUGA BERITA Ramah NUsantara ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
--- Kirimkan Artikel Anda Melalui email ramahnusantara@gmail.com ----